Dimuat di Republika//Minggu, 02 April 2006
Mengayuh Seni di Kota Industri
Festival seni bertajuk Tangerang Art Festival (TAF) 2006 baru saja berlalu. Tapi, festival seni-budaya yang lebih besar, Festival Cisadane 2006, sudah mulai dipersiapkan. Festival yang biasa digelar di sepanjang sungai dan tepian kali Cisadane, yang membelah kota Tangerang, itu akan digelar Mei 2006.
Meskipun dijuluki sebagai kota industri, dan kota petro dolar, Kotamadya Tangerang tidak pernah sepi dari kegiatan kesenian. Ini, menurut beberapa aktifis seni setempat, karena kepedulian Walikota Wahidin Halim pada pembinaan dan pengembangan seni budaya masyarakat di wilayahnya. ''Pak Wahidin sangat wellcome kalau kita membutuhkan bantuan untuk mendukung kegiatan kesenian,'' kata Wowok Hesti Prabowo, aktifis seni yang kini masih menjabat ketua Dewan Kesenian Tangerang (DKT), suatu hari.
Di halaman rumah Walikota Tangerang yang luas, suatu malam di tahun 2004, juga pernah digelar pertunjukan seni dan baca puisi dengan menghadirkan beberapa artis dan penyair ternama dari Jakarta, seperti Rieke Diah Pitaloka. Wahidin juga dikenal rajin menghadiri iven-iven kesenian, termasuk yang diadakan oleh Komunitas Sastra Indonesia (KSI), Komunitas Kebun Nanas (KKN), dan DKT -- tiga LSM seni-budaya yang banyak memotori aktivitas kesenian di kota industri itu.
Tentu, maraknya berbagai kegiatan kesenian kota petro dolar tersebut juga tidak terlepas dari peran para aktifis kesenian yang ada di lembaga-lembaga tersebut, seperti Wowok Hesti Prabowo, Iwan Gunadi, Aris Kurniawan, dan Ayu Cipta. Merekalah, yang bersama Walikota dan jajaran pemerintah kota Tangerang, seperti Sekda Hari Mulya Zain, merancang materi iven-iven kesenian besar, seperti TAF dan Festival Cisadane. ''Kerja sama kami dengan mereka selama ini sangat baik. Mereka yang merancang program dan melaksanakan kegiatan, dan kami, pemerintah kota Tangerang yang memfasiltasi,'' kata Hari Mulya Zain.
Selain untuk penggalian kekayaan seni budaya tradisional setempat, serta pembinaan dan pengembangan seni budaya modern dan konteporer yang dimiliki warga, iven-iven seni-budaya tersebut juga selalu dikaitkan dengan isu-isu non-kesenian yang lebih aktual. Festival Cisadane 2005, misalnya, dikaitkan dengan isu lingkungan dan penyelamatan kali Cisadane dari pencemaran. Maklum, sungai yang membelah kota industri itu makin dicemari limbah pabrik.
Sementara, TAF 2006, bulan lalu, mengangkat isu antikekerasan terhadap anak. Karena itu, iven kesenian yang digelar di Pusat Pemerintah Kota Tangerang dan Gedung Kesenian Tangerang (Modernland) itu pun dikemas dalam tema Antikekerasan terhadap Anak dalam Bingkai Kesenian Indonesia. Dan, tema itu pula yang diangkat ke seminar.
Tema itu dipilih, menurut ketua panitia TAF 2006, Ayu Cipta, karena saat ini makin banyak adegan kekerasan terhadap anak terhidang ke masyarakat, baik melalui pemberitaan di media massa, tayangan televisi, maupun dalam bingkai kesenian, seperti film-film kartun. ''Tiap hari, kita dengan mudah menemukan pameran kekerasan di banyak film televisi, termasuk film kartun,'' kata Ayu Cipta.
Seruan antikekerasan terhadap anak melalui iven kesenian itu pun disambut antusias oleh Wahidin Halim. ''Jangan sampai kita melihat lagi korban kekerasan terhadap anak. Terlebih, tindakan itu dilakukan oleh orang tua yang seharusnya memberikan rasa kasih sayang dengan tulus kepada mereka. Anak-anak berhak mendapat perlindungan, pendidikan, dan kasih sayang dari orang tuanya,'' katanya, saat membuka TAF 2006.
Wahidin, yang membuka TAF 2006 dengan menggoreskan cat minyak pada kanvas, berharap agar seruan anti-kekerasan terhadap anak itu tidak hanya menjadi seruan moral, tapi dapat menjadi sikap untuk berhenti menggunakan kekerasan dalam keluarga. Melalui iven yang digagas oleh DKT itu, Wahidin berharap penerapan nilai-nilai seni, budaya, dan agama yang baik akan dapat mendukung perwujudan perilaku dan akhlak manusia yang berbudi pekerti luhur. Sehingga, kesinergisan itu akan mendukung visi pembangunan akhlakul karimah di Kota Tangerang.
Berbagai acara menyemarakkan TAF 2006, seperti pameran seni rupa dan lelang lukisan, pergelaran wayang golek, pentas seni anak, serta perkemahan teater anak-anak. Tidak kurang dari 60 pelukis Tangerang memamerkan karya-karya terbaik mereka dalam iven yang digelar untuk memperingati HUT ke-13 Kota Tangerang tersebut. Sebagian besar lukisan yang dipamerkan bertema antikekerasan terhadap anak.
Pada penutupan TAF, beberapa lukisan dilelang, dan 50 persen hasilnya akan disumbangkan kepada anak-anak korban kekerasan. Artis yang juga politisi, Marisa Haque, sempat membeli sebuah lukisan yang dipamerkan. ''Selaku seniman lukis, kami tidak hanya mimikirkan kepentingkan pribadi dalam berkarya, tapi juga orang lain, termasuk anak-anak korban kekerasan,'' kata Ketua Komite Senirupa DKT Achris Muarif.
Wahidin Halim: Kebebasan Berekspresi tetap Dijaga
Hampir bersamaan dengan Tangerang Art Festival 2006, Walikota Tangerang Wahidin Halim meluncurkan Perda Nomor 8 tahun 2005 tentang Pelarangan Pelacuran dan Perda Nomor 7 tahun 2005 tentang Pelarangan Pengedaran dan Penjualan Minuman Beralkohol.
Perda Nomor 8 yang dimaksudkan untuk membersihkan Kotamadya Tangerang dari kemaksiatan itu sempat mendapat reaksi cukup keras dari kalangan seniman, karena dikhawatirkan akan membatasi kebebasan berekspresi dan aktivitas perempuan dalam kesenian yang umumnya dilakukan di malam hari.
Perda Nomor 8 yang dimaksudkan untuk membersihkan Kotamadya Tangerang dari kemaksiatan itu sempat mendapat reaksi cukup keras dari kalangan seniman, karena dikhawatirkan akan membatasi kebebasan berekspresi dan aktivitas perempuan dalam kesenian yang umumnya dilakukan di malam hari.
Namun, Wahidin menjamin, kebebasan berekspresi di bidang kesenian tidak akan terganggu, karena masyarakat Tangerang masih bebas melakukannya di siang maupun malam hari. ''Asal tidak melampaui batas dan dilakukan dalam koridor nilai-nilai moral dan agama, silakan saja. Tidak akan dilarang,'' katanya. ''Yang dilarang itu kan pelacuran dan minuman keras. Bukan kesenian. Jadi, para seniman tidak perlu cemas,'' tambahnya.
Wahidin juga menjamin tidak akan terjadi salah tangkap, meskipun ada razia untuk menegakkan Perda tersebut. Apalagi, Perda itu akan segera dilengkapi Juklak Lapangan, sebagai pegangan bagi para petugas ketertiban. Jadi, imbaunya, warga tidak perlu resah dan tak perlu takut keluar malam. ''Kalau memang bukan pelacur, kenapa mesti takut,'' katanya.(ahmadun yh )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar