Tentang 'Ayu Cipta'
Ayu Cipta, nama pena-ku di dunia jurnalistik. Publik sastra dulu pernah mengenalku dengan nama Budi Tunggal Rahayu. Nama itu tercantum dalam setiap aku mempublikasikan puisi. Sejumlah puisi tercatat masuk dalam antologi bersama. Seperti Negeri Poci, Rumah Tanpa Nomor, Jentera Terkasa, Resonansi Indonesia, Cisadane 2, Bisikan Kata Teriakan Kota dan Maha Duka Aceh. Puisi lainnya juga dimuat di majalah Bahana (Brunei Darussalam), Republika, Wawasan. Kini menulis puisi masih aku lakukan meski tak sempat lagi mempublikasikan lewat koran atau membacakannya dari panggung ke panggung.
Ayu Cipta, nama pena-ku di dunia jurnalistik. Publik sastra dulu pernah mengenalku dengan nama Budi Tunggal Rahayu. Nama itu tercantum dalam setiap aku mempublikasikan puisi. Sejumlah puisi tercatat masuk dalam antologi bersama. Seperti Negeri Poci, Rumah Tanpa Nomor, Jentera Terkasa, Resonansi Indonesia, Cisadane 2, Bisikan Kata Teriakan Kota dan Maha Duka Aceh. Puisi lainnya juga dimuat di majalah Bahana (Brunei Darussalam), Republika, Wawasan. Kini menulis puisi masih aku lakukan meski tak sempat lagi mempublikasikan lewat koran atau membacakannya dari panggung ke panggung.
Duniaku (sementara) membuat laporan berita untuk sebuah media nasional dan ngurus tiga anak: Mohammad Gilang Narasrestha Candraditya Ciptabudi, Journalist Kafka Nur Bagaskara Nareswara Ciptabudi dan Nur Aurora Sang Kinanthi Satyanagri Nareswari Ciptabudi, buah cintaku dengan Cipta Adi. Meski keinginan kembali membaca puisi itu tak lekang, kini imajiku tersimpan dalam ruang jiwa dan menunggu untuk meledak.
Aku anak semata wayang (ontang-anting), lahir dengan nama pemberian orangtua Budi Rahayu. Nama itu untuk mengenang tempat lahirku lewat bedah caesar di RS Bersalin Budi Rahayu, Magelang. Aku tumbuh di sebuah kota kecil, Temanggung beralam indah dan ijo royo-royo, kota yang kerap menyabet piala Adipura. Dikenal dengan kota tembakau karena di sana masyarakatnya mayoritas bertani tembakau. Letaknya berpuluh kilometer dari Semarang Jawa Tengah (tak sulit mencari dalam peta). Aku hanya anak seorang petani cengkih bernama Mudjo Sumedi (alm) dan Ayemi Yasri, seorang pegawai negeri yang tlah pensiun. Masa kecilku hingga sekolah menengah pertama (SMP) aku habiskan di Desa Gunung Payung dan Candiroto.
Menginjak sekolah menengah atas (SMA) aku menempuhnya di Temanggung, ibukota kabupaten. Karena aku gandrung dengan bahasa, aku memilih jurusan bahasa (A4) di SMAN 3 Temanggung, Mungseng. Tiga tahun aku belajar, bermodalkan peringkat 1-5 besar di kelas bahasa, aku lolos tanpa tes masuk Universitas Diponegoro Semarang. Lagi-lagi aku memilih jurusan Sastra (Indonesia).
Di kampus Sastra Pleburan yang dikenal dengan sebutan 'Kampus Demonstran' aku mulai mengenal aksi unjukrasa, teater dan majalah kampus sastra (Hayamwuruk). Pertama kali ikut aksi demonstrasi diajak kakak tingkat Aan Rusdianto (Partai Rakyat Demokratik)-pimpinan Budiman Sudjatmiko). Aku bolos kuliah Filologi. (Filologi berasal dari bahasa Yunani philein, "cinta" dan logos, "kata". Filologi merupakan ilmu yang mempelajari naskah-naskah manuskrip). Demo pertamaku cukup jauh dari Kota Semarang, di IAIN Salatiga.
Sejak itu aku kecemplung dalam aktivitas kampus yang cukup melelahkan. Hampir tak pernah aku lewatkan aksi unjukrasa. Aku tak asing dikejar aparat (polisi) yang bawa pentungan. Aku sudah paham selalu di-intel-i setiap membaca puisi tentang 'perjuangan mahasiswa'. Aku pernah mengadvokasi puluhan buruh yang ikut berdemo. Pokoknya demo adalah menu istimewa diluar kuliah.
Suatu hari wajahku muncul di koran nasional sedang membaca puisi di Gedung DPRD Semarang (gedung Intan), wah gemetar, takut dimarahi orangtua. Tapi alhamdulillah tak pernah ada penyesalan sampai sekarang tentang apa yang sudah kulakukan. Belakangan aku mengenal aktivis PRD seperti Petrus, Rahardjo Waluyo Djati dan Aan pernah diculik dan disiksa zaman rezim Orba, Fransisca Ria Susanti. Dengan Santi aku pernah kos bareng., kabarnya ia menjadi koresponden media nasional di Hongkong. Aku juga kenal baik Widji Tukul (penyair) yang hingga kini tak tahu rombanya. Beberapa kali pernah bersama-sama Tukul membaca puisi di Tegal, Solo dan Semarang. Saya ingat ketika ada temu penyair di Tegal, Tukul baca puisi disuruh turun dari panggung. Tapi semua penyair; Sosiawan Leak, Radar Panca Dahana, Tuti Gintini, Wowok Hesti Prabowo, Widjati, dll mendukung si penyair ngetop dengan puisi Bunga dan Tembok dan ucapan 'hanya ada satu kata, Lawan!' agar tidak turun dari panggung.
Tak hanya demo aku pernah aktif di Teater Emper Kampus (Emka). Beberapa kali bermain dan menyutradarai naskah Petang di Taman karya Iwan Simatupang. Di Emka aku belajar mengerti kesenian. Eks Emka kini sudah mulai cukup dikenal seperti Dody Ardiansyah kini wartawan Antara. Puluhan tahun tak berjumpa, aku tak sengaja ketemu lagi Dody di PT Panarub. Ketika sama-sama meliput Presiden SBY di pabrik sepatu itu. Adapula Auno Soka (pelawak) yang pernah ikut API di televisi swasta. Nah aku tak sengaja ketemu Auno di Polres Metro Tangerang. Dia bersolidaritas ketika Jarwo Kwat Wakil Presiden Republik Mimpi itu ditahan.
Adapula Benny Benke, satu dari sejumlah wartawan yang menggarap film Gerimis Kenangan dari Sahabat Terlupakan. Film ini bercerita tentang adanya orang-orang Rusia yang begitu setia memerhatikan dan mempelajari Indonesia meski terhalang tembok pembekuan hubungan diplomatik. Dengan Benny aku pernah ketemu sekali waktu di satdion Benteng. Benny kini menulis untuk Suara Merdeka.
Tak hanya teater kampus, aku kemudian bergabung dengan Teater Kompor. Sekali waktu pernah mementaskan Repertoar Tiga Kali Bersama Satu Kali Sendiri di joglo IKIP Semarang bersama D. Erisiana Dewi dan Kuswanto dengan sutradara Agung Wibowo. Pernah pula bersama Pipiek Isfianti, Fitri Lambang (Fitri Astuti Lestari) kini aktivis perempuan di Semarang, D Erisiana dan Dianing Widya Yudhistira (kini-novelis dan penyair, istri dari penyair dan wartawan Tempo Mustafa Ismail tinggal di Vila Pamulang) mendirikan Teater Umbu. Sempat beberapa kali mementaskan lakon Terdampar Slawomer Mrozek dan Beranda 'August Stinberg."
Aktivitas di luar kampus nan padat itu tak membuat aku keteter kuliah. Pada 1998 aku lulus dengan hasil yang menurutku memuaskan. Sesuai jurusanku aku mengambil skripsi novel Budi Darma, berjudul Ny. Talis. Ada pengalaman menarik tentang novel ini dan sosok Ny. Talis dalam novel ini yang secara khusus disampaikan Pak Budi Darma melalui surat kepadaku. (tunggu cerita berikutnya...jangan ketinggalan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar