Listrik Padam Buruh Meradang
SUARA mesin hidrolik di unit cutting (memotong) ruang produksi PT Kenindo Tunggal Perkasa di kawasan industri Bonen Kav. 6 Cikupa, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten menderu, bising kedengarannya.
Dari kejauhan terlihat sekitar 300-an buruh penerima order sandal Carvil tenggelam dalam kesibukan. Pagi itu cuaca mendung, bahkan disertai gerimis. Namun cuaca yang terasa dingin di kulit tak menyurutkan para buruh mayoritas perempuan untuk mengejar target produksi : 3.000 pasang sandal selama sembilan jam kerja.
Pabrik pengorder sandal berbahan spon (eva) itu memang tak hanya mengerjakan order 'Carvil' saja. Label lain yang digarap seperti 'Bata' juga sandal 'Convese' dan 'Spalding' yang diekspor ke Italia.
Saat ini pabrik yang berjarak 1 Km dari jalan Raya Serang KM 18,8 itu mengerjakan order lokal. Beruntung hari itu di pabrik tidak sedang digilir mati lampu, jadi mesin produksi bisa menderu hingga pukul 17.00 sore, saat para buruh lepas kerja.
Pekan lalu, PT Kenindo adalah salah satu dari sekitar 3.000-an pabrik anggota Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kabupaten Tangerang yang terkena pemadaman listrik.
"Kita tukar hari kerja, konsekuensinya kita memberikan uang tranportasi Rp 10.000 kepada setiap buruh sebanyak 400 orang yang sudah terlanjur masuk kerja,"kata Hasby Amazone, Manajer Sumber Daya Manusia (SDM) kepada Tempo.
Amazone mengatakan dalam kurun waktu dua bulan terakhir tercatat empat kali listrik mati tanpa pemberitahuan dari PLN. "Kita hanya tahu dari media tapi kan secara umum, tidak tahu giliran kita kapan. Ini yang merepotkan.,"ujar Amazone.
Tukar hari kerja dimaksud adalah manajemen pabrik menukar hari kerja pada saat listrik mati dengan hari Sabtu. Namun kebijakan pabrik, jam kerja juga dikurangi menjadi 8 jam dari semula setiap hari kerja biasa Senin hingga Jumat sebanyak 9 jam kerja.
" Pada Sabtu, masuk kerja pukul 08.00 dan pulang pukul 16.00,"kata Amazone.
Pada Selasa lalu, dirasakan betul dampak matinya listrik di pabrik itu. Ketika mesin produksi sudah start, tiba-tiba listrik mati. Otomatis pabrik memulangkan seluruh pekerja yang berjumlah 400 orang, 300 diantaranya menjalankan mesin produksi.
Otomatis produksi hari itu sebanyak 3.000 pasang sandal gagal, produksi pun hari itu distop. Tidak dipasangnya genset sebagi listrik cadangan di pabrik itu juga makin menghambat produksi. "Persoalnya dulu tidak pernah ada listrik mati,"ucap Amazone. Lalau listrik mati itupun karena di gardu induk mengalami penurunan tegangan dan hanya berlangsung sebentar.
Sejak tahun 2007 hingga 2008 ini listrik sering mati. Pemasangan genset selain di pabrik tidak tersedia lahan juga karena membutuhkan biaya yang besar serta sulitnya mendapat solar industri yang harganya terjangkau. "Untung kita yang semula 10 persen cuma 5 persen kesedot ke genset,"kata Amazone.
Pabrik pengorder sandal itupun hanya mengandalkan listrik PLN sebagai satu-satunya sumber tenaga untuk mengolah berpuluh ribu lembar spon menjadi sandal setiap harinya. Resikonya, begitu listrik padam maka pabrik tidak masimal berproduksi. Otomatis itu akan berpengaruh kepada pengiriman barang.
"Kalau lokal ada toleransi, tapi kalau pengiriman ekspor? ini yang menghambat,"ujar Amazone.
Buntutnya pabrik merugi ratusan juta rupiah. Apalagi kalau listrik padam pada saat puncak produksi pukul 08.00 hingga pukul 16.00. Solusinya? Amazone hanya bersikap pasrah, "kembalikan ke pemerintah,"katanya.
Buntutnya pabrik merugi ratusan juta rupiah. Apalagi kalau listrik padam pada saat puncak produksi pukul 08.00 hingga pukul 16.00. Solusinya? Amazone hanya bersikap pasrah, "kembalikan ke pemerintah,"katanya.
Buruh juga merasakan dampak listrik mati membuat aktivitas kerja terganggu. "Listrik mati merusak acara, kita libur Sabtu dan Minggu. Liburan sudah direncanakan bersama keluarga, tapi mau nggak harus kerja sebagai ganti hari saat listrik padam,"ujar Diki, pekerja mekanik di PT Kenindo.
Sama dengan Diki, Juni, kepala bagian finishing di bagian produksi PT Kenindo juga mengakui hal itu. "Kita kehilangan ongkos, tapi masih untung pabrik menggantinya,"kata Juni.
Juni mengaku setiap hari mengabiskan Rp 12 ribu. Biaya itu dikeluarkan dari kantongnya untuk membayar ongkos angkutan kota pulang-pergi dari rumahnya Rp 8.000 dan sisanya Rp 4.000 untuk makan siang.
Juni mengaku setiap hari mengabiskan Rp 12 ribu. Biaya itu dikeluarkan dari kantongnya untuk membayar ongkos angkutan kota pulang-pergi dari rumahnya Rp 8.000 dan sisanya Rp 4.000 untuk makan siang.
Sekretaris Apindo Kabupaten Tangerang Juanda Usman secara terpisah menyatakan pihaknya berencana melayangkan surat kepada PLN. Pasalnya tindakan yang dilakukan perusahaan listrik itu bukan kali pertama melakukan pemadam listrik tanpa kejelasan. "Ada yang diberitahu ada yang tidak,"kata Juanda.
Juanda menyebut sekitar 3.000 pabrik merugi milyaran rupiah akibat produksi tergangu."Apa PLN mau menanggung itu semua?"katanya.(Ayu Cipta)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar