SAJAK-SAJAK CINTA AYU CIPTA
Perjalanan Sunyi
Berderap langkah rebana
gemerincing tasbih beradu takbir
memuja-Mu, memuja-Mu dengan tangis rindu
seruling jiwa merambat hati
penuh cinta tak sampai kepada-Mu
aku berserah dalam lamunan panjang nir logika
aku dikalahkan matahari yang cintanya ikhlas terbagi
clarinet sayat hatiku nan rindu
kepada Rabbku Qudus aku menyimpan tangis
yang kutanam sejak kelahiranku
kupasrahkan jiwa ini ya Tuhan
dengan tasbihku yang kuyu disepuh debu
aku terperangkap cahaya maya
Ya Rabb, inginku berteduh di balik jubah-Mu
clarinet...menyapa
bayang malaikat subuh
menghantar hingga ke pintu-Mu
aku tak hendak berpaling
aduuuh!
aku tersandung keinginan tak berbentuk
angin oh angin tiadalah kiranya rasa ingin
menghampar di atas sajadah yang tlah lama kutinggalkan
memeluk malam, memeluk bintang jatuh
dan mengejar matahari hingga ke perbatasan malam
terkapar aku dalam deru
dan raungan jiwa yang paling rahsia
matahari menghantam kesunyian di pinggir pantai-Mu
mengaduh aku saksikan secuil bulan sabit
aku menyapa malam dan gemintang
dan jua awan putih nan lembut
aku mengadu dalam diam
dalam arus kebahagiaan
tersanjung di dalam damai surga-Mu
Kenanga, Oktober 2005-2008
Jika Dunia Tanpa waktu
:nem
Jika dunia tanpa waktu apa jadinya kehidupan?
mungkin kita tidak akan mengenal dua kutub
mempertautkan utara dan selatan
dimana laki-laki dan perempuan bertemu,
kemudian bercinta di bawah sengatan matahari
pun berpelukan dalam bekunya gunung es
Andaikan dunia tanpa suara
maka tak terasa indah desir tawamu yang serupa angin
membawa kesejukan menerpa dedaunan cedar dan cemara
tak pula bisa dirasakan kehangatan kepakan sayap garuda
dan kereta kayu yang melintasi rel-rel panjang tanpa batas
Di dunia sapaan cinta tak terucapkan
mulut laki-laki terkunci,
tercekat diantara lidah dan gigi-gigi
yang gemeretak beradu hanya sebatas keheningan
yang mampu mengungkapkan perasaan itu
dengan isyarat-isyarat yang tak terkatakan,
kecuali mata batin yang beradu di dalam relung paling dalam
dan sembunyi di ceruk-ceruk karang degup nafas kita
dengan begitu,
perempuan akan menyerah
pada keheningan yang diciptakan laki-laki
tenggelam dalam rasa sunyinya.
Kenanga, November 2001-2008
Jalan Penyebrangan
Daun-daun menunas pada ranting
bertahan pada dahan
menguatkan pohonan
kemudian menaungi segala kehidupan
Tentang cinta,
seperti pohon cedar
membagi kasihnya kepada daun,
ranting, dan dahan juga akar
Sedang kematian dan cinta bertautan
ia akan datang menggandeng lenganmu
pun aku dan siapapun
ke sebuah pelaminan abadi
Andaikan aku menjadi pengantin itu
akan kubawa serta
angsoka merah perlambang cinta
yang membuat hidup berarti
Tapi aku akan memilih jalan penyeberangan
melintasi segala ruang
kembali kepada-Nya dengan ketenangan
tanpa membawa sedikit rasa cinta
yang pernah tumpah di jalan-jalan,
kecuali birahiku bersua dengan Tuhanku
dengan segala rasa cintaku.
Kenanga, November 2001-2008
Mimpiku Bintang-Bintang
:yang
Mimpiku jalanku
menuju kesetaraan bintang-bintang
mawar Cina yang kau hantar di gerbang malam
menemu ujung pagi
cintaku berurai cahaya
berharap untuk cintaku merdeka
Pantai Anyer, September 2004-2005
Dari Tanah Meluruh ke Tanah
Jiwa terpisah dari raga
seperti dedaunan dan bebungaan
rontok ditohok angin
musim tak kenal daun tanggal segar atau layukah?
ia tak memilih bunga yang digugurkan
pernah mekar atau masih kuncup
jika waktunya tiba
manusia tak kenal lagi titah
Maka kematian tak kan meninggalkanmu
ia seperti kerangka besi
memerangkap keras mengunci baja
ia tembok bagi jiwa resah
mengurung tanpa memberi celah
ia seperti sebuah dinamit
menunggu waktu untuk meledak
ia seperti puisi
menjadi indah dalam kesedihan
ia seperti kekasih
menjemput dan menggandeng tanganmu
menuju pelaminan abadi
seketika itu gemuruh megatruh dilayatkan
mengiring jasad kembali ke muasalnya
dari tanah meluruh ke tanah
Semarang-Tangerang 2008
1 komentar:
Muantap! puisi2nya keren abis. Wajar juga sih, melihat (setelah baca profil) yang buat. Mbak Ayu Cipta, yang dari seragam abu2 udah kepincut ama sastra. Salut deh. Tapi, btw kenapa nggak diterusin aja bakat atau hobi susun menyusun kata begini Mbak. Cos kita kan masih kekurangan dan jelas membutuhkan orang semacam Khairil Anwar sang mestro yang hingga kini belom ada tandingannya...
Posting Komentar